Sabtu, 25 Juli 2026

CERITA DIRI: Menyusuri Jalan-jalan Desa Dari Ibu Kota

 "Saya meyakini bahwa desa yang maju dibangun oleh masyarakat yang berdaya. Karena itu, pengabdian bukan hanya tentang mendampingi program, tetapi juga menumbuhkan harapan, memperkuat kapasitas, dan menghadirkan perubahan yang berkelanjutan bagi masyarakat desa." 

Wahyu Hananto Pribadi: Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Pusat 
Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal


JAKARTA, Wahyu Hananto Pribadi, S.Sn. adalah seorang sarjana desain, jurnalis, praktisi  di bidang sosial dan pemberdayaan potensi masyarakat yang mengabdikan perjalanan profesionalnya untuk mendukung pembangunan desa dan penguatan kapasitas masyarakat. Berbekal latar belakang akademik di bidang seni dan desain, ia meyakini bahwa kreativitas, komunikasi, dan inovasi merupakan elemen penting dalam mendorong perubahan sosial yang berkelanjutan.

Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Seni pada Jurusan Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1994. Setelah lulus, karier profesionalnya dimulai di Jakarta sebagai desainer interior sebelum melanjutkan kiprah di Surabaya sebagai desainer furnitur. Pengalaman tersebut membentuk kemampuannya dalam mengintegrasikan aspek estetika, fungsi, dan pemecahan masalah dalam setiap pekerjaan.


Di tengah kesibukan profesional, Wahyu tetap aktif di dunia jurnalistik dan organisasi kemasyarakatan. Minatnya pada dunia media telah tumbuh sejak masa kuliah ketika dipercaya menjadi Pemimpin Majalah Kampus Sani, lulus kuliah bergabung dengan Majalah Koridor dan Koran Mingguan Suara Nasional di Surabaya. Pengalaman tersebut membentuk kemampuan komunikasi, penulisan, dan pengelolaan informasi yang kemudian menjadi bekal penting dalam perjalanan pengabdiannya. Di saat yang sama, keterlibatannya dalam berbagai organisasi kemasyarakatan semakin menguatkan komitmennya terhadap pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berbasis partisipasi.

Pada tahun 2014, Wahyu kembali ke Jakarta untuk mengabdikan pengalaman dan kompetensinya pada lingkup yang lebih luas. Tahun 2015 ia bergabung dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi sebagai Tenaga Ahli Sekretariat Jenderal pada Bidang Kajian Strategis. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Pusat, amanah yang terus dijalankan hingga saat ini.

Dalam kapasitasnya sebagai TAPM Pusat, Wahyu terlibat dalam berbagai upaya penguatan kebijakan, pengembangan kapasitas pendamping desa, pengelolaan data dan informasi, strategi komunikasi pembangunan, serta pendampingan program-program prioritas kementerian. Keahliannya di bidang desain visual, komunikasi, dan jurnalistik menjadi nilai tambah dalam menyusun materi publikasi, edukasi, serta diseminasi informasi yang mendukung percepatan pembangunan desa di seluruh Indonesia.

Bagi Wahyu Hananto, pembangunan desa bukan saja sekadar pelaksanaan program, melainkan proses membangun kemandirian masyarakat melalui kolaborasi, inovasi, dan pemberdayaan. Prinsip tersebut menjadi landasan dalam setiap langkah pengabdiannya untuk menghadirkan desa yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.

Dengan pengalaman profesional yang memadukan dunia desain, komunikasi, jurnalistik, dan pemberdayaan masyarakat, Wahyu Hananto Pribadi terus berkomitmen memberikan kontribusi terbaik bagi pembangunan nasional melalui penguatan desa sebagai fondasi kemajuan Indonesia. Indonesia yang direncanakan bukan sekedar ada aktifitas pembangunan. 

Pekerja Seni khususnya seni kreatif terapan memiliki peran sentral dalam percepatan pembangunan masyarakat Desa di era digitalisasi dan Revolusi Grafis (Diskomvis) dengan makin maraknya AI (artificial intellegence) yang tidak lagi sekedar tumbuh tetapi menguasai hampir semua aspek kehidupan manusia. Memanage dan memanfaatkan secara bijak adalah solusi untuk membersamai perkembangan jaman. 25/07/2026


4 komentar:

  1. Desa adalah wilayah pemerintahan di pedesaan yang mempunyai hak mengatur rumah tangganya sendiri sukses

    BalasHapus
  2. Bangun desa bangun Indonesia ✊

    BalasHapus
  3. Kita ibarat manusia planet yang turun ke bumi dan membahasanakan bahasa planet menjadi bahasa bumi. Terus setia dalam pengabdianmu, sampai orang lain menganggap engkau tidak penting, karna sesunggunya merekalah yang penting. Karena semua bukan urusan penting tidak penting, tetapi sesungguhnya kita mau belajar memanusiakan manusia, sampai di titik inilah, ketika mereka memahami betapa pentingnya mereka, maka hati nurani akan menjawab engkau penting. Tuhan memberkati

    BalasHapus