Selasa, 27 Oktober 2026

MERAWAT INTEGRITAS: Mengawal Semangat Indonesia dengan Karya Logo BUM Desa


MENGABDIKAN karya nyata bagi pemberdayaan masyarakat, terdengarnya bombastis, idealis dan melangit. Tetapi memang demikian pada titik tertentu kita harus menapakkan kaki ke bumi dan habitat kembali pada obsesi masa muda. Masa-masa kecil ingin berbuat manfaat dan manfaat, baik dan baik sekali. Banyak orang melampaui capaian dalam hal kekuasaan dan harta tetapi nihil kemanfaatan dan pengakuan tulus. 
Banyak figur rela membeli nama dengan menebar harta hanya ingin mendapatkan pengakuan untuk dikenal. Dan komunitas pekerja seni atau kumpulan  yang berlabel seniman sebagai profesi maupun terpaksa menjadi seniman menjadikan capaian tertingginya adalah validasi akan karya, terlepas capaian itu hanya pelarian atau pengalihan aktifitas. 

Sejak kecil, saya memiliki hobby menggambar. Bagi saya, menggambar bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang, melainkan cara untuk menuangkan gagasan, mengungkapkan imajinasi, dan menciptakan sesuatu yang memiliki makna. Kegemaran itulah yang kemudian menuntun perjalanan pendidikan saya hingga berhasil menyelesaikan studi dan meraih gelar Sarjana Seni dari Institut Seni Indonesia.

Setelah menyelesaikan pendidikan, perjalanan profesional saya berkembang melalui bidang desain interior, kemudian berlanjut ke desain furnitur. Dari kedua bidang tersebut, saya belajar bahwa desain tidak hanya berbicara tentang keindahan dan bentuk, tetapi juga tentang fungsi, kenyamanan, kebutuhan manusia, serta nilai guna yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Seiring berjalannya waktu, ketertarikan saya terhadap kegiatan organisasi dan pemberdayaan masyarakat membawa saya menapaki jalur pengabdian yang berbeda. Saya kemudian menekuni profesi sebagai tenaga ahli pemberdayaan masyarakat. Pengalaman ini memperluas cara pandang saya bahwa kreativitas dan kemampuan merancang bukan hanya dibutuhkan untuk menghasilkan karya seni atau produk desain, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat dan mendorong kemajuan desa.

Seni, desain, dan pemberdayaan masyarakat memiliki benang merah yang sama: menciptakan sesuatu yang bernilai, menjawab kebutuhan, dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Hari ini menjadi salah satu momen paling membanggakan dalam perjalanan hidup dan karier saya. Saya mendapatkan penghargaan sebagai pemenang desain logo BUMDesa. Karya yang berawal dari gagasan dan proses kreatif tersebut kini memperoleh kesempatan untuk menjadi identitas visual yang digunakan oleh BUMDesa di seluruh Indonesia. Terkait makna LOGO dapat diklik Makna Filosofis Logo BUMDesa.

Bagi seorang sarjana seni, pencapaian ini memiliki makna yang sangat mendalam. Sebuah karya seni atau desain tidak hanya mencapai keberhasilan ketika mendapatkan pengakuan, penghargaan, atau pujian. Lebih dari itu, keberhasilan tertinggi adalah ketika karya tersebut dapat diterima, digunakan, dan memberikan manfaat nyata bagi banyak orang.




Logo BUMDesa bukan sekedar gambar atau simbol. Di dalamnya terdapat harapan agar BUMDesa semakin dikenal, memiliki identitas yang kuat, serta mampu membangun kebanggaan terhadap potensi dan kekuatan ekonomi desa. Saya berharap karya ini dapat menjadi bagian dari perjalanan BUMDesa dalam mengembangkan usaha, memperluas jejaring, meningkatkan kepercayaan masyarakat, dan memperkuat peran ekonomi desa di Indonesia.

Saya menyadari bahwa perjalanan ini bukan semata-mata tentang pencapaian pribadi. Ada proses belajar, pengalaman profesional, interaksi dengan banyak orang, serta kesempatan untuk terus mengembangkan diri. Semua itu menjadi bekal yang mempertemukan kegemaran menggambar sejak kecil dengan karya yang kini memiliki jangkauan manfaat lebih luas. Tidak sekedar menciptakan label sebagai identitas suatu lembaga tetapi memberikan roh dan jiwa pada label tersebut untuk senantiasa para "pengurus" lembaga ekonomi yang bernama BUMDesa merawat dan mengawal cita-cita pendiri bangsa tentang pentingnya integritas, gotong royong dan kebersamaan dalam membangun kesejahteraan desa yang diwujudkan dengan pembentukan BUMDesa, Badan Usaha Milik Desa.

Penghargaan ini saya maknai bukan sebagai akhir perjalanan, melainkan sebagai dorongan untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi yang lebih besar. Saya percaya bahwa setiap orang memiliki potensi yang dapat dikembangkan, dan setiap keahlian akan menemukan nilai tertingginya ketika dipergunakan untuk menjawab kebutuhan serta membawa manfaat bagi sesama.

Dari seorang anak yang gemar menggambar, menjadi sarjana seni, menekuni desain interior dan furnitur, hingga mengabdikan diri dalam pemberdayaan masyarakat, perjalanan ini mengajarkan saya bahwa kreativitas dapat menemukan tempatnya di berbagai bidang kehidupan.

Bagi saya, inilah capaian tertinggi seorang sarjana seni: bukan hanya mampu menciptakan karya yang indah, tetapi juga menghasilkan karya yang hidup, digunakan, dan bermanfaat bagi banyak orang hingga label BUMDesa itu tidak lagi penting bagi masyarakat Desa.

Terimakasih kepada Bapak Yandri Susanto Menteri Desa dan Daerah Tertinggal Republik Indonesia  dan Tim Juri serta seluruh panitia yang telah memberi kesempatan untuk berperan dalam mencatatkan diri pada perjalanan sejarah  pembangunan BUMDesa di Indonesia yang tentunya sebagai institusi yang kelak memiliki Hak Paten akan karya dan penggunaan Logo BUMDesa yang disayembarakan ini. Semoga logo BUMDesa ini menjadi bagian kecil dari langkah besar membangun desa-desa Indonesia yang mandiri, berdaya saing, dan sejahtera. Sebab pada akhirnya, kebanggaan terbesar seorang pencipta bukan hanya terletak pada karya yang dihasilkan, melainkan pada manfaat yang ditinggalkannya bagi masyarakat dan masa depan bangsa.

Wahyu Hananto Pribadi

Sabtu, 25 Juli 2026

CERITA DIRI: Menyusuri Jalan-jalan Desa Dari Ibu Kota

 "Saya meyakini bahwa desa yang maju dibangun oleh masyarakat yang berdaya. Karena itu, pengabdian bukan hanya tentang mendampingi program, tetapi juga menumbuhkan harapan, memperkuat kapasitas, dan menghadirkan perubahan yang berkelanjutan bagi masyarakat desa." 

Wahyu Hananto Pribadi: Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Pusat 
Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal


JAKARTA, Wahyu Hananto Pribadi, S.Sn. adalah seorang sarjana desain, jurnalis, praktisi  di bidang sosial dan pemberdayaan potensi masyarakat yang mengabdikan perjalanan profesionalnya untuk mendukung pembangunan desa dan penguatan kapasitas masyarakat. Berbekal latar belakang akademik di bidang seni dan desain, ia meyakini bahwa kreativitas, komunikasi, dan inovasi merupakan elemen penting dalam mendorong perubahan sosial yang berkelanjutan.

Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Seni pada Jurusan Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1994. Setelah lulus, karier profesionalnya dimulai di Jakarta sebagai desainer interior sebelum melanjutkan kiprah di Surabaya sebagai desainer furnitur. Pengalaman tersebut membentuk kemampuannya dalam mengintegrasikan aspek estetika, fungsi, dan pemecahan masalah dalam setiap pekerjaan.


Di tengah kesibukan profesional, Wahyu tetap aktif di dunia jurnalistik dan organisasi kemasyarakatan. Minatnya pada dunia media telah tumbuh sejak masa kuliah ketika dipercaya menjadi Pemimpin Majalah Kampus Sani, lulus kuliah bergabung dengan Majalah Koridor dan Koran Mingguan Suara Nasional di Surabaya. Pengalaman tersebut membentuk kemampuan komunikasi, penulisan, dan pengelolaan informasi yang kemudian menjadi bekal penting dalam perjalanan pengabdiannya. Di saat yang sama, keterlibatannya dalam berbagai organisasi kemasyarakatan semakin menguatkan komitmennya terhadap pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berbasis partisipasi.

Pada tahun 2014, Wahyu kembali ke Jakarta untuk mengabdikan pengalaman dan kompetensinya pada lingkup yang lebih luas. Tahun 2015 ia bergabung dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi sebagai Tenaga Ahli Sekretariat Jenderal pada Bidang Kajian Strategis. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Pusat, amanah yang terus dijalankan hingga saat ini.

Dalam kapasitasnya sebagai TAPM Pusat, Wahyu terlibat dalam berbagai upaya penguatan kebijakan, pengembangan kapasitas pendamping desa, pengelolaan data dan informasi, strategi komunikasi pembangunan, serta pendampingan program-program prioritas kementerian. Keahliannya di bidang desain visual, komunikasi, dan jurnalistik menjadi nilai tambah dalam menyusun materi publikasi, edukasi, serta diseminasi informasi yang mendukung percepatan pembangunan desa di seluruh Indonesia.

Bagi Wahyu Hananto, pembangunan desa bukan saja sekadar pelaksanaan program, melainkan proses membangun kemandirian masyarakat melalui kolaborasi, inovasi, dan pemberdayaan. Prinsip tersebut menjadi landasan dalam setiap langkah pengabdiannya untuk menghadirkan desa yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.

Dengan pengalaman profesional yang memadukan dunia desain, komunikasi, jurnalistik, dan pemberdayaan masyarakat, Wahyu Hananto Pribadi terus berkomitmen memberikan kontribusi terbaik bagi pembangunan nasional melalui penguatan desa sebagai fondasi kemajuan Indonesia. Indonesia yang direncanakan bukan sekedar ada aktifitas pembangunan. 

Pekerja Seni khususnya seni kreatif terapan memiliki peran sentral dalam percepatan pembangunan masyarakat Desa di era digitalisasi dan Revolusi Grafis (Diskomvis) dengan makin maraknya AI (artificial intellegence) yang tidak lagi sekedar tumbuh tetapi menguasai hampir semua aspek kehidupan manusia. Memanage dan memanfaatkan secara bijak adalah solusi untuk membersamai perkembangan jaman. 25/07/2026


Senin, 13 Juli 2026

ENGAGEMENT: Pilihan di Era SOSMED dalam Mendampingi dan Memberdayakan Pembangunan Masyarakat Desa

MENGOPTIMALKAN Engagement secara umum berarti fokus interaksi atau keterlibatan, yang awam dapat menyebutnya dengan pertunangan. Media Sosial & Digital: Merujuk pada interaksi audiens dengan sebuah konten atau merek, seperti likes, komentar, shares, dan saved. Untuk mengukurnya, pelaku usaha sering membandingkan total interaksi dengan jumlah pengikut (Engagement Rate).

Engagement yang memberdayakan adalah yang mengajak berpikir solutif, menyatukan kekuatan, dan memberi arti.  

Di tengah derasnya arus digitalisasi yang merambah ke seluruh penjuru negeri, desa tidak lagi sekadar menjadi wilayah pinggiran yang jauh dari hiruk-pikuk informasi. Media sosial atau SOSMED kini telah menjadi ruang publik baru yang terbuka lebar, menghapus sekat jarak, waktu, dan akses. Di sinilah konsep


Konsep dan Teori Engagement: Landasan Pemikiran

Secara konseptual, engagement pertama kali diuraikan oleh Kahn (1990) sebagai kondisi di mana individu mengekspresikan diri secara fisik, kognitif, dan emosional dalam menjalankan peran atau aktivitasnya; bukan sekadar hadir, tetapi terlibat sepenuh hati dan pikiran¹. Schaufeli & Salanova (2007) kemudian mempertegasnya sebagai keadaan mental yang positif, ditandai dengan semangat, dedikasi, dan penyerapan yang mendalam—berbeda sekaligus lawan dari rasa lelah atau apatis². Dalam konteks komunikasi dan pembangunan, teori Use and Gratifications dari Elihu Katz dan Michael Gurevitch (1959) menjelaskan bahwa masyarakat tidak hanya pasif menerima informasi, tetapi secara aktif memilih dan menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan akan pengetahuan, interaksi, dan partisipasi³. Sementara itu, Manuel Castells dalam The Network Society (1996) meletakkan dasar bahwa struktur sosial masa kini dibangun di atas jaringan informasi, sehingga keterlibatan di ruang digital menjadi syarat keberadaan dan pengaruh setiap komunitas, termasuk desa⁴.

Engagement dalam pembangunan berarti hubungan timbal balik: mendengar, berdialog, bertukar gagasan, dan bergerak bersama. Macey & Schneider (2008) menegaskan bahwa ini bukan sekadar kehadiran, melainkan inisiatif, ketahanan, dan usaha lebih demi tujuan bersama⁵. Di masa lalu, pendampingan pembangunan desa sering kali bersifat satu arah, terhambat jarak dan biaya. Sosmed mengubahnya menjadi model partisipatif, di mana warga menjadi subjek aktif, bukan objek penerima program semata⁶.

Dampak Engagement Terhadap Kemajuan Ekonomi Masyarakat

Pembangunan desa yang sejati tidak hanya berbicara tentang fisik, tetapi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan. Di sini engagement berperan sangat nyata. Robert Putnam dalam Bowling Alone (2000) menjelaskan bahwa keterlibatan dan jaringan sosial—yang kini diperluas lewat media sosial—adalah bentuk modal sosial, yang terbukti kuat mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat⁷. Ketika warga, pendamping, dan pembeli saling terhubung, nilai ekonomi muncul dari kepercayaan, pertukaran pengetahuan, dan akses pasar yang lebih luas.

Penelitian menunjukkan bahwa kelompok masyarakat yang memiliki tingkat keterlibatan tinggi memiliki pendapatan rata-rata hingga 30–40% lebih tinggi dibandingkan yang rendah partisipasinya, karena kemampuan berkolaborasi, berbagi peluang, dan berinovasi bersama⁸. Di desa, banyak potensi besar—pertanian, kerajinan, kuliner, wisata—yang selama ini terkurung karena terputus dari pasar. Melalui sosmed, engagement menjadi jembatan: mempromosikan produk, menerima umpan balik, meningkatkan kualitas, dan membangun merek lokal. Hal ini sejalan dengan pandangan Sen (1999) dalam Development as Freedom, bahwa pembangunan sejati adalah perluasan kemampuan dan akses masyarakat untuk berpartisipasi dan menikmati hasilnya⁹.


Contoh nyata: desa yang aktif berinteraksi dan mempromosikan produknya di media sosial mampu meningkatkan omzet usaha warga hingga dua kali lipat, membuka lapangan kerja baru, dan mengurangi ketergantungan pada bantuan luar¹⁰. Engagement di sini bukan sekadar pamer, melainkan proses belajar bersama: memahami kebutuhan pasar, meningkatkan standar, dan membangun kemandirian.

Selain ekonomi, engagement juga menguatkan tata kelola dan budaya. Informasi anggaran, rencana kerja, dan hasil pembangunan yang dibuka lewat sosmed menciptakan transparansi dan akuntabilitas. Hal ini selaras dengan teori Akuntabilitas Sosial, di mana keterlibatan publik menjamin pembangunan berjalan sesuai kebutuhan warga¹¹. Di sisi lain, budaya dan kearifan lokal yang didokumentasikan dan dibagikan menjadi daya tarik sekaligus kebanggaan, memperkuat identitas desa di tengah arus globalisasi.

Tantangan: Engagement yang Membangun vs Gaduh Tanpa Solusi

Memilih berinteraksi di sosmed membawa tantangan. Ruang digital bebas, tempat benar-salah, niat baik-buruk bercampur. Di sinilah esensi engagement diuji. Menurut komunikator ahli James Grunig, komunikasi publik yang baik harus berbasis pada dialog, bukan sekadar penyebaran pesan; harus memberikan nilai, bukan sekadar kritik¹². Engagement yang memberdayakan adalah yang mengajak berpikir solutif, menyatukan kekuatan, dan memberi arti. Ia menolak budaya gaduh yang hanya mencela atau mengoreksi tanpa memberi jalan keluar, sebagaimana semangat: “Bersibuklah membangun kemanfaatan untuk semua, bukan gaduh mencela dan mengoreksi tanpa mampu memberi arti dan solusi.”

Keterlibatan yang positif mengubah sosmed dari tempat debat tak berujung menjadi ruang belajar, kerja sama, dan kreativitas. Ia membangun kesadaran bahwa setiap suara dan setiap konten bisa menjadi kontribusi nyata bagi kemajuan desa.

Penutup: Pilihan Sikap untuk Masa Depan

Pada akhirnya, engagement di era sosmed adalah sebuah pilihan sikap. Pilihan untuk hadir, peduli, dan berkontribusi. Pilihan untuk tidak membiarkan desa tertinggal, melainkan mengangkatnya sejajar dengan kemajuan zaman. Ketika interaksi di media sosial diarahkan untuk mendampingi dan memberdayakan, maka ia menjadi kekuatan dahsyat yang mampu menggerakkan pembangunan desa yang berkelanjutan. Desa bukan lagi objek pembangunan, melainkan subjek utama yang tumbuh, berkembang, dan memberi manfaat bagi semua. Di ujung jari dan layar genggaman, kita memegang kekuatan untuk membangun kemanfaatan, menjaga kewarasan, dan mewujudkan rasa syukur atas kemajuan yang dibangun bersama. 13/07/2026

 

Rabu, 17 September 2025

KEPMENDESA 294 TAHUN 2025 DAN PENDAMPING DESA

KEPUTUSAN MENTERI DESA PDT Nomor 294 Tahun 2025 telah diterbitkan pertengahan Agustus 2025 sehingga di bulan September 2025 aturan tersebut secara hukum telah diberlakukan. Aturan baru ini menjelaskan tentang Tugas dan Fungsi Pendamping Desa atau lebih dikenal juga sebagai Tenaga Pendamping Profesional dalam pelaksanaan tugasnya mendamping prencanaan dan pembangunan desa.

Dokumen tersebut memuat aturan yang dikeluarkan tanggal 19 Agustus 2025 dimaksudkan untuk mengatur kerja dan pelaporan para Pendamping Desa yang mendampingi perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan pembangunan Desa di seluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dokumen tersebut memuat;

 

KESATU  : Menetapkan Petunjuk Teknis Pendampingan Masyarakat Desa sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri ini.

KEDUA  : Petunjuk Teknis Pendampingan Masyarakat Desa sebagaimana dimaksud dalam Diktum KESATU, meliputi:

a. tata cara Pendampingan Masyarakat Desa;
b. tata cara pengelolaan tenaga pendamping profesional;
c. mekanisme pendayagunaan tenaga pendamping profesional; dan 
d. rincian tugas, fungsi, dan pengaturan tata kerja tenaga pendamping profesional.

KELIMA : Pada saat Keputusan Menteri ini mulai berlaku, Keputusan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 143 Tahun 2022 tentang Petunjuk Teknis Pendampingan Masyarakat Desa, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Tujuan diterbitkannya Keputusan Menteri Desa PDT ini dimaksudkan agar para Tenaga Pendamping Profesional dapat digunakan untuk:

1. Memberikan panduan dalam pelaksanaan pendampingan masyarakat desa melalui tenaga pendamping profesional.
2. Memberikan panduan dalam pengelolaan tenaga pendamping profesional.
3. Memberikan panduan mekanisme pendayagunaan tenaga pendamping profesional.
4. Memberikan kejelasan mengenai rincian tugas, fungsi, dan pengaturan tata kerja tenaga pendamping profesional.

Dalam sambutan Pembukaan acara Rapat Koordinasi Penjelasan Kepmen secara daring yang dihadiri seluruh TPP di semua tingkatan, Kadis PMD Provinsi dan Kabupaten serta Camat dan Kepala Desa Dr. Agustomi Masik, MDev., Plg menekankan perlunya sinergitas dan hubungan yang solid untuk semua TPP dalam mendampingi dan membangun desa. Perlunya meningkatkan kapasitas diri sehingga menjadikan para Tenaga Pendamping sebagai champion di desa-desa dampingannya. Berikut adalah slide Power Poin penjelasan dari Kepmen 294 Tahun 2025.

 

Kepala Pusat P3MD secara detail menjelaskan satu persatu Kepmendesa Nomor 294 Tahun 2025 dalam bentuk paparan PPT untuk memberi kemudahan dalam memahami substansi Petunjuk Teknis Pendampingan Masyarakat Desa.

Dengan telah tebitnya aturan  tentang Petunjuk Teknis Pendampingan Desa ini maka seluruh aktifitas pendampingan mengacu para regulasi terbaru. 

Untuk lebih jelasnya pembaca dapat mengikuti secara Live penjelasan melalui Kanal Yotube dengan klik  Kanal Youtube Live Paparan PPT Sosialisasi Petunjuk Teknis Pendampingan Masyarakat Desa dan bagi Tenaga Pendamping Profesional di semua jenjang untuk selalu membaca secara detail mendiskusikan agar mempermudah memahami hubungan antar pihak dengan posisi Tenaga Pendamping 18/09/2025